Google dan Facebook kembangkan strategi Untuk Memberantas Berita Hoax
Dengan kecanggihan internet kini, bagi beberapa orang hal ini justru peluang untuk menyebarkan berita hoax, mengadu domba, saling menghina dan kejahatan lainnya demi memuaskan dirinya sendiri. Apakah kita membutuhkan kejahatan ketika menggunakan internet? Tentu saja tidak. Google dan Facebook tidak boleh diam saja jika banyak masalah penyebaran berita hoax terjadi. Peran Google dan Facebook di sini sangat di butuhkan.
Sebelumnya, Google hanya melarang penggunaan layanan iklan Google Adsense yang mengandung unsur pornografi, kekerasan dan penghinaan. Pada tanggal 14 November lalu, Google menambahkan satu larangan lagi dari layanan Adsense, yaitu penyebaran berita bohong atau hoax.
“Kedepannya kami akan membatasi penanyangan iklan dari situs yang salah menggambarkan, salah mengutarakan, atau menyembunyikan informasi tentang pemilik, isi, serta tujuan utama dari situs tersebut,” kata juru bicara Google kepada Reuters.
Ketika sebuah berita hoax terkait pemilihan presiden Amerika Serikat tampil di Google di posisi teratas, hal ini membuat Google berpikir untuk mengembangkan strategi baru untuk memberantas berita hoax. “Kami jelas salah dalam kasus ini, tapi kami akan terus bekerja untuk memperbaiki algoritme kami.” Kata juru bicara Google kepada The Verge.

Tidak hanya Google, Facebook juga kena

Google dan Facebook kembangkan strategi Untuk Memberantas Berita Hoax
Tidak hanya berdampak pada Google, Facebook juga terkena dampaknya. Saat ini Facebook di waspadai karena dianggap kurang mampu mencegah penyebaran berita hoax. Penyebaran berita hoax tidak dapat di remehkan lagi. Facebook juga harus cepat bertindak untuk mengatasi masalah ini.
Berita yang membuat penyebaran berita hoax semakin panas ialah berita yang menyangkut soal pemilihan presiden Amerika Serikat yang berlangsung pada tanggal 8 November 2016. Berita Bohong tersebut telah banyak mempengaruhi masyarakat Amerika Serikat dalam memilih presiden.
CEO Facebook Mark Zuckerberg berpendapat bahwa berita hoax yang tersebar di Facebook hanya berjumlah 1 persen saja. Meskipun begitu, tetap saja meremehkan bukanlah hal yang baik. Mudah-mudahan saja masalah ini akan segera teratasi.
Sebuah website bernama Gizmodo mengabarkan bahwa Facebook sebenarnya telah membuat alat untuk membantu mencegah penyebaran berita hoax. Namun pihak Facebook justru memilih untuk tidak merilisnya dengan alasan di khawatirkan nanti banyak berita yang hilang dari situs yang mendukung partai politik tertentu.
Facebook menyatakan bahwa mereka selalu berusaha memeriksa kualitas dan keakuratan segala hal yang dihadirkan di platform mereka, termasuk juga konten spam, click bait dan tentunya berita hoax.
Sebelumnya pada tahun 2015, Facebook telah menghadirkan fitur yang memungkinkan pengguna melaporkan berita hoax dan mengenali berita hoax. Namun berita yang di laporkan pengguna tidak langsung di hapus, tetapi hanya di kurangi penyebarannya.
Selain Google dan Facebook yang berperan dalam mencegah berita hoax, tentunya kita juga harus menjaga perkataan kita. Karena masalah berita hoax, adu domba, fitnah, perkelahian itu semua sering terjadi karena manusia yang tidak bisa menjaga perkataanya. Padahal buat apa kita memfitnah, menyebarkan berita hoax atau menghina? Bukankah masih banyak perkataan yang lebih baik untuk di ucapkan?

LEAVE A REPLY