Internet menjadi kebutuhan pokok masyarakat Indonesia. Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) mengungkap, lebih dari setengah penduduk Indonesia telah terhubung dan rutin menggunakan internet untuk mencari berbagai informasi.

Survei yang dilakukan APJII sepanjang 2016 menemukan bahwa 132,7 juta orang Indonesia telah terhubung ke internet dengan total penduduk Indonesia sendiri sebanyak 256,2 juta orang. Ini membuat, penyebaran berita melalui internet sangat cepat. Termasuk berita dan foto palsu atau hoax.

Terkait topik ini, Google News dan First Draft menyelenggarakan seminar Google Facts Checking and Social Verification untuk jurnalis. Seminar berlangsung Selasa (2/5/2017) di JCC Plenary Hall, Jakarta, sebagai bagian dari ajang World Press Freedom Day 2017.

“Hoax tak hanya marak di Indonesia. Saat pemilu presiden lalu, di Amerika Serikat juga marak hoax,” ujar Irene Jay Liu, News Lab Lead Google, saat membuka seminar.

Puluhan jurnalis dari berbagai negara dikenalkan dengan berbagai perangkat lunak dari Google dengan dipandu oleh Stephanie Burnett dari Storyful‘s Australia.

Stephy Burnett mengatakan berita palsu terlihat meyakinkan dengan dilengkapi foto dan gambar yang telah dimanipulasi sebelumnya.”Beberapa waktu lalu misalnya, beredar foto hewan persilangan kuda dan babi. Padahal itu hoax. Foto tersebut diambil melalui rekam layar video peternakan sapi di Belgia,” katanya.

Untuk mengenali foto dan berita palsu, Stephanie Burnett memperkenalkan beberapa panduan verifikasi visual dari First Draft. Pertama, melalui uji pertanyaan apakah yang diunggah adalah versi asli? Kedua, adanya identitas jelas dari fotografer atau orang pertama yang mengambil gambar.

Ketiga, dengan mencocokkan lokasi pengambilan gambar dengan fasilitas Google Earth. “Identitas foto dapat diketahui dari metadata EXIF. Ini membutuhkan sedikit keahlian khusus,namun membantu untuk mengetahui apakah sebuah foto telah dimanipulasi,” lanjutnya.

Keempat dengan mencocokkan waktu pengambilan foto dengan latar belakang lokasi terkini. Dan kelima, alasan foto ditampilkan sebagai bagian dari informasi. Ia menambahkan, membendung berita palsu adalah hal yang serius untuk dilakukan. “Di Indonesia, ada situs turnbackhoax yang aktif mengklarifikasi berita palsu atau hoax,” pungkasnya.

 

LEAVE A REPLY