Akhir-akhir ini, dunia dihebohkan dan diramaikan dengan berbagai postingan-postingan hoax yang bertebaran di media sosial, terutama Facebook. Tentu ini menjadi sangat menjengkelkan karena akibatnya dapat saling memecah-belah berbagai pihak yang semula damai dan tenang saja. Pasalnya, postingan hoax yang banyak ditemukan di Facebook itu berisi konten-konten berbau SARA yang menimbulkan kebencian sehinga mengadu domba pihak yang satu dengan pihak yang lain.

Sumber dari postingan tersebut sungguh tidak dapat dipertanggungjawabnkan. Facebook menjadi salah satu yang dilihat masyarakat dunia sebagai media yang seharunsya bisa mambantu menyaring berita hoax yang beredar. Postingan yang menghebohkan dunia tersebut pastinya digunakan salah satu pihak untuk mengambil keuntungan. Dari postingan tersebut yang tersebar, ada saja akun yang menambah perluasan sebarannya untuk mendapat like, share, atau komentar. Dengan begitu, ia akan memancing pengiklan dan mengambil keuntungan darinya. Di lain pihak, ada yang memanfaatkan postingan hoax tersebut untuk alat propaganda seperti Donald Trump yang akhirnya memenangkan pemilu di Amerika Serikat.

Masyarakat dunia menilai Facebook kurang tegas menindak lanjuti postingan yang penuh dengan hoax tersebut. Pasalnya, postingan hoax tersebut seringkali muncul dengan disamarkan lewat postingan berita yang kemudian tersebar di platform mereka. Hal itu tidak mendapat verifikasi dari Facebook. Oleh karena itulah, masyarakat dunia memandang dalam kasus ini Facebook turut bertanggungjawab dan mereka juga mengecam bahwa Facebook harusnya bisa lebih tegas lagi.

Hal ini sebenarnya dapat diatasi dengan mengembangkan algoritma khusus yang bisa menentukan otentik atau tidaknya sebuah berita atau postingan. Facebook harusnya pun dapat melakukan hal yang tidak terlalu rumit untuk mereka lakukan tersebut. Dapat dibilang tidak rumit karena nyatanya ada 4 mahasiswa yang hanya dalam waktu 36 jam berhasil menciptakan sebuah ektensi khusus browser Chrome untuk mendeteksi sebuah berita hoax atau bukan.

Mereka menamai ekstensi mereka dengan ‘FiB: Stop living a lie’. Mereka adalah Nabanita De, Mark Craft, Anant Goel, dan Catherine Craft. Mereka melakukan ekstensi tersebut melalui klasifikasi tiap postingan dengan memanfaatkan teknologi mutakhir. Dengan teknologi kecerdasan buatan tersebut, FiB dapat mengelompokkan apakah sebuah foto screenshoot, foto konten dewasa, tautan palsu, tautan malware, juga konten hoax dapat dikategorikan dalam klasifikasi terverifikasi atau tidak terverifikasi.

Mahasiswa tersebut juga memeriksa reputasi website pemuat berita untuk mengecek keabsahan sebuah tautan. Kemudian, mahasiswa melakukan pelacakan terhadap tautan tersebut apakah tautan itu memiliki malware atau mengarahkan pengguna ke website phising. Tidak berhenti di sana. Mereka akan melakukan pencarian ke Google/Bing lalu mencatat hasil pencarian dan menyimpan rangkumannya untuk kemudian dapat menunjukkannya pada pengguna.

Dalam hal postingan seperti adanya screenshoot dari Twitter, sistem kemudian melakukan konversi gambar menjadi teks. Setelah itu, mereka menggunakan nama akun pengguna yang disebut dalam screecnshoot tersebut untuk mendapatkan rangkuman isi kicauan. Mereka akan memeriksa apakah tweet yang ada dalam screenshoot tersebut memang pernah dikicaukan pengguna akun tersebut atau tidak.

Setelah itu, akan ada plug in browser yang akan menambahkan tag kecil di bagian pojok. Tag kecil itu digunakan untuk menentukan apakah berita tadi bisa diverifikasi atau tidak. Dengan begitu, postingan yang muncul itu dapat lebih tersaring mana yang hoax dan mana yang  bukan. Setidaknya ini akan membantu para pengguna media sosial untuk mengetahui terlebih dahulu benar tidaknya sebuah postingan baru mengambil langkah yang tepat.

Sampai sejauh itu, ekstensi yang dilakukan 4 mahasiswa tersebut telah dirilis sebagai proyek open source. Keempat mahasiswa tersebut membuka pintu lebar-lebar untuk menyambut para pengembang yang bisa mengembangkan teknologi tersebut lebih jauh dan lebih baik.

Dalam acara hackathon tersebut, Facebook merupakan salah satu sponsor. Jadi, saat ini masyarakat dunia berharap bahwa Facebook bisa menambahkan fitur baru di layanan mereka yang bisa mendeteksi keabsahan suatu berita.

LEAVE A REPLY